Pertanyaan dari Si Kecil Sifa

unik puji astuti

       Keluarga Pak Ahmad tinggal di Desa Sokamaju. Beliau tinggal bersama istrinya dan seorang putri kecil bernama Sifa. Pak Ahmad seorang dokter, sedangkan istrinya seorang guru. Pak Ahmad dan istrinya kadang selalu bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Sifa. Terkadang Sifa menanyakan hal-hal yang belum layak dia pikirkan di usia yang terbilang masih sangat muda yaitu tiga tahun. Meskipun begitu, Pak Ahmad dan istrinya bangga dikaruniai anak pintar seperti Sifa.

Menjelang Idul Adha, Sifa bertanya kepada Pak Ahmad “Ayah, hari raya Idul Adha itu apa?” kata  Sifa yang duduk di pangkuan ayahnya.

“Hari raya Idul Adha itu adalah sebuah hari raya dalam agama Islam. Hari ini memperingati peristiwa kurban yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Isma’il, “kata Pak Ahmad.

Belum selesai Pak Ahmad menjawab, namun Sifa memotong pembicaraannya. “Kenapa Nabi Ibrahim tega menjadikan putranya Isma’il untuk kurban. Nabi Ibrahim jahat” Kata Sifa sambil cemberut.

“Tunggu dulu Sifa, kamu tidak boleh menyimpulkan seperti itu, sebelum ceritanya selesai. Ingat tidak boleh memotong pembicaraan orang ya, kalau ada orang berbicara dengarkan dahulu sampai selesai!”, kata Pak Ahmad.

“Iya Yah, maafkan Sifa. Habisnya Nabi Ibrahim jahat,” kata Sifa.

“Mau dilanjut tidak ini?” tanya Pak Ahmad kepada Sifa.

“Iya mau Yah,” jawab Sifa.

“Sifa kamu tahu tidak alasan Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya untuk kurban padahal itu anak laki-laki satu-satunya?” kata Pak Ahmad.

“Ya tidak tahu, Yah, mungkin karena Nabi Ibrahim benci sama anaknya” Jawab Sifa.

“Bukan seperti itu, Nak, tindakan itu merupakan wujud kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Pada saat itu Allah memerintahkan agar Ibrahim menjadikan putranya untuk kurban. Karena Nabi Ibrahim sangat patuh dia melaksanakan perintah itu meskipun Nabi Isma’il itu putranya. Nabi Ibrahim juga menangis, Nak,” jelas Pak Ahmad kepada putrinya dengan perlahan agar paham.

 “Lalu bagaimana Yah, apakah putranya benar-benar dijadikan kurban?” tanya Sifa.

“Tidak Sayang, karena sebenarnya Allah SWT hanya ingin menguji kepatuhan Nabi Ibrahim dan kurbannya diganti dengan domba. Oleh sebab itu, mulailah diperingati adanya hari raya Idul Adha,” kata Pak Ahmad.

“Oh, jadi seperti itu,” kata Sifa sambil memanyunkan bibirnya.

“Jadi sekarang, apakah Nabi Ibrahim jahat?” tanya Pak Ahmad kepada putrinya.

“Tidak, Yah, Nabi Ibrahim baik” Jawab Sifa. “Nah kan jadinya yang jahat Sifa menuduh orang tanpa tahu yang sebenarnya.” kata Pak Ahmad.

“Iya, Yah maafkan Sifa,” kata Sifa sambil menundukkan kepalanya.

” Minta maaflah kepada Allah SWT Nak, dan ingat jangan diulangi lagi ya!” kata Pak Ahmad.

“Iya, Yah, ya Allah maafin Sifa ya allah” Kata Sifa sambil melihat ke atas.

Melihat tingkah putrinya Pak Ahmad tersenyum kemudian mencium kening putrinya. “Jadi, pelajaran yang kamu dapat pada hari ini apa?” Tanya pak Ahmad.

“Satu, tidak boleh memotong pembicaraan orang; dua tidak boleh menuduh orang sembarangan tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya;  dan ketiga kita harus patuh kepada Allah SWT.” Jawab Sifa sambil menghitung menggunakan jarinya.

“Iya benar, pintar sekali, anak Ayah,” kata Pak Ahmad, kemudian kembali mencium kening putrinya.

“Sifa, Sifa, sini Nak diminum susunya.” Suara ibu memanggil  Sifa dari dapur.

“Kamu dipanggil Mama tu, ayo sana!” kata Ayah.

“Iya Ma, Sifa ke mama dulu ya, Yah,” kata Sifa yang kemudian mencium pipi kiri ayahnya. Segera bergegas menemui mamanya.

“Sifa, Sifa. Coba berhati-hatilah, berjalan lebih baik daripada berlari seperti itu. Ayah yakin Mama sabar menunggu Sifa.” Ujar Pak Ahmad sambil menggelengkan kepalanya.

       Akhirnya Sifa pergi ke dapur menemui mamanya untuk minum susu dan Pak Ahmad di ruang keluarga menonton TV. Seperti itulah cara Pak Ahmad untuk mengajari putrinya dan selalu menjelaskan sesuatu secara perlahan agar putrinya mengerti.

Penulis : 1. Nayla Mertha Sauninda (XI MIPA 2)

                2. Unik Puji Astuti (XI MIPA 2)

Penyunting: tim redaktur

Next Post

IMAN DAN TAKWA

Iman adalah percaya dan yakin dengan sepenuh hati adanya alam semesta dan segala isinya. Taqwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah seraya mengharap pahala Allah dan meninggalkan maksiat. Adapun contoh dari iman dan taqwa adalah melaksanakan shalat Idul Adha. Idul Adha merupakan sebuah hari raya agama […]