Muhasabah Menjadi Pribadi Lebih Baik

Lentera

Penulis : Dewi Alhaa

Manusia di setiap jejak langkah dalam kegiatan sehari-hari melalui berbagai macam jenis kehidupan, kehidupan yang bahagia kehidupan yang suka bahkan duka itu dapat dikatakan seperti rumus , terdapat peribahasa bahwa berakit rakit dahulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sebagai manusia biasa kita tidak luput dari yang namanya dosa. Muhasabah dalam KBBI diartikan sebagai intropeksi diri atau koreksi diri terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan dan sebagainnya) diri sendiri. Muhasabah sendiri didalam Islam mendapatkan kedudukan yang baik dan tinggi.

Imam al-Ghazali mengutip dalam Q.S Al-Hasyr:18 yang didalamnya terdapat kandungan keutamaan tentang muhasabah. Menurut Imam Al-Ghozali dalam Q.S Al-Hasyr:18 mengisyaratkan bahwa manusia untuk melakukan muhasabah atas segala perbuatan yang telah dilakukan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaknya bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah swt . Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Hasyr ayat 18).

“Kedudukan muhasabah serta intropeksi diri sangat pentig dalam artian setiap apa-apa yang telah dilakukan manusia biasa tidak luput atau terlepas dari yang namanya perbuatan baik ataupun perbuatan buruk.” Sebagai manusia kita tetap berikhtiar disertai dengan berdoa berharap hanya melakukan perbuatan yang baik akan tetapi manusia mendapatkan godaan atau bisikan dari setan. Setiap manusia mempunyai masalalu dan setiap masa lalu mempunyai masanya. Masa lalu dapat menjadi dua mata pisau yang tajam yaitu, pertama masa lalu dapat dijadikan sebagai pembelajaran dlam kehipan supaya diri menjadi pibadi yang lebih baik lebih berkualitas. Kedua masa lalu terkadang patut benar-benar kita tingglkan ketika masa lalu tersebut tidak memberikan kebaikan serta manfaat pada diri kita.

Peran penting muhasabah sebagai intopeksi diri dan pengendali diri adalah ketika manusia mempunyai masa lalu yang harus berlalu dan menuju masa depan yang akan dijalankan. Setiap manusia juga mempunyai masa sekarang dan masa depan, di mana masa-masa ini adalah masa dimana manusia mewujudkan kehambaanya kepada Allah swt dan sebagai manusia yang bertaqwa beriman kita tidak hanya berikhtiar akan tetapi juga berdoa berpasrah kepada Allah swt untuk menjalani berbagai macam jenis kehidupan, bentuk bertaqwa kita adalah menunaikan sholat lima waktu, menunaikan amalan-amalan syariat Islam dan tentunya menjalankan perintah Allah swt dan menjauhi larangan Allah swt. bentuk ikhtiar kita sebagai makhluk Allah adalah melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Dengan dilakukannya muhasabah hidup akan lebih hati-hati ketika akan melakukan suatu perbuatan. Ketika manusia tidak mampu menepuk pundaknya sendiri dengan keras, ia tidak akan mampu melalui berbagai macam jenis kehidupan. Tetap semangat dan selalu disertai renungan supaya jiwa husnundzon tetap terjaga.

“Sayyidina Umar RA, kata Imam Al-Ghazali, menganjurkan kita untuk melakukan muhasabah. “Hendaklah kalian lakukan muhasabah atas diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah perbuatan kalian sebelum ia kelak ditimbang.”” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M], juz IV, halaman 419).

sementara Sayyidina Umar RA bila malam tiba memukul kedua kakinya dengan mutiara dalam rangka muhasabah. Kepada dirinya sendiri Sayyidina Umar RA mengatakan sebagai bentuk muhasabah, “Apa saja yang kau lakukan hari ini?” Semua ini menunjukkan keutamaan kegiatan muhasabah atau introspeksi diri.

Imam Al-Ghazali mengaitkan muhasabah dan tobat. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena tobat adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan atau sikap diri sendiri yang sudah dilakukan dengan rasa penyesalan. Imam Al-Ghazali dalam kaitan dengan muhasabah dan tobat mengutip Surat An-Nur ayat 31 dan Surat Al-A’raf ayat 201. Wallahua’lam

    Penulis : Dewi Alhaa Purworejo, 22/02/2022